Ketika Tuhan menciptakan WANITA,malaikat datang dan bertanya..."Mengapa kau begitu lama menciptakan WANITA Tuhan???"
Tuhan menjawab, "Sudahkah engkau melihat setiap detail yang saya ciptakan untuk WANITA ??""Dua tangannya mampu menjaga banyak anak pada saat bersamaan, punya pelukan yang dapat menyembuhkan sakit hati dan keterpurukan dan semua itu hanya dengan 2 tangan".
Malaikat menjawab dan takjub," hanya dengan 2 tangan ???????? tidak mungkin !!!!!!!"
Tuhan menjawab "tidak kah kau tau,,,dia juga mampu menyembuhkan dirinya sendiri dan bisa bekerja 18 jam sehari ".
Malaikat mendekat dan mengamati WANITA tersebut, dan bertanya, " Tuhan,,,kenapa wanita terlihat begitu lelah dan rapuh ??????,,,seolah2 terlalu banyak beban baginya...."
Tuhan menjawab " itu tidak seperti yang kau bayangkan,,, itu adalah air mata...."
"untuk apa ??????" tanya malaikat....
Tuhan melanjutkan " air mata adalah salah satu cara dia mengekspresikan kegembiraan,, kegalauan,, cinta,,, kesepian,,, penderitaan,,, dan kebanggaan.... serta wanita ini mempunyai kekuatan mempesona laki2...ini hanya beberapa kemampuan yang dimiliki WANITA.....""dia dapat mengatasi beban lebih dari laki2,,,, dia mampu menyimpan kebahagiaan dan pendapatnya sendiri.....""dia mampu tersenyum saat hatinya menjerit,,, mampu menyanyi saat menangis,,,menangis saat terharu,,, bahkan tertawa saat ketakutan.."" dia berkorban demi orang yang dicintainya.."" dia mampu berdiri melawan ketidakadilan."" dia menangis saat melihat anaknya adalah pemenang...."" dia girang dan bersorak saat kawannya tertawa bahagia..."" dia begitu bahagia mendengar suara kelahiran...."" dia begitu bersedih mendengar berita kesakitan dan kematian,,, tapi dia mampu mengatasinya... dia tau bahwa sebuah ciuman dan pelukan dapat menyembuhkan luka...."
"CINTANYA TANPA SYARAT,,,,"
" HANYA ADA 1 YANG KURANG DARI WANITA,,, DIA LUPA BETAPA BERHARGANYA DIA....."
Rabu, 29 Desember 2010
Senin, 06 Desember 2010
Cinta tak pernah meminta tuk menanti...
Sayyidina Ali mencintai Fatimah Az-Zahra
................
Ada rahasia terdalam di hati ‘Ali yang tak dikisahkannya pada siapapun. Fathimah. Karib kecilnya, puteri tersayang dari Sang Nabi yang adalah sepupunya itu, sungguh memesonanya. Kesantunannya, ibadahnya, kecekatan kerjanya, parasnya. Ia tak tahu apakah rasa itu bisa disebut cinta. Tapi, ia memang tersentak ketika suatu hari mendengar kabar yang mengejutkan. Fathimah dilamar seorang lelaki yang paling akrab dan paling dekat kedudukannya dengan Sang Nabi. Lelaki yang membela Islam dengan harta dan jiwa sejak awal-awal risalah. Lelaki yang iman dan akhlaqnya tak diragukan; Abu Bakr Ash Shiddiq, Radhiyallaahu ’Anhu.
”Allah mengujiku rupanya”, begitu batin ’Ali. Ia merasa diuji karena merasa apalah ia dibanding Abu Bakr. Kedudukan di sisi Nabi? Abu Bakr lebih utama, mungkin justru karena ia bukan kerabat dekat Nabi seperti ’Ali, namun keimanan dan pembelaannya pada Allah dan RasulNya tak tertandingi. Lihatlah bagaimana Abu Bakr menjadi kawan perjalanan Nabi dalam hijrah sementara ’Ali bertugas menggantikan beliau untuk menanti maut di ranjangnya..
Lihatlah juga bagaimana Abu Bakr berda’wah. Lihatlah berapa banyak tokoh bangsawan dan saudagar Makkah yang masuk Islam karena sentuhan Abu Bakr; ’Utsman, ’Abdurrahman ibn ’Auf, Thalhah, Zubair, Sa’d ibn Abi Waqqash, Mush’ab.. Ini yang tak mungkin dilakukan kanak-kanak kurang pergaulan seperti ’Ali. Lihatlah berapa banyak budak muslim yang dibebaskan dan para faqir yang dibela Abu Bakr; Bilal, Khabbab, keluarga Yassir, ’Abdullah ibn Mas’ud.. Dan siapa budak yang dibebaskan ’Ali? Dari sisi finansial, Abu Bakr sang saudagar, insyaallah lebih bisa membahagiakan Fathimah. ’Ali hanya pemuda miskin dari keluarga miskin.
”Inilah persaudaraan dan cinta”, gumam ’Ali. ”Aku mengutamakan Abu Bakr atas diriku, aku mengutamakan kebahagiaan Fathimah atas cintaku.” Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan. Ia adalah keberanian, atau pengorbanan.
Beberapa waktu berlalu, ternyata Allah menumbuhkan kembali tunas harap di hatinya yang sempat layu. Lamaran Abu Bakr ditolak. Dan ’Ali terus menjaga semangatnya untuk mempersiapkan diri.
Ah, ujian itu rupanya belum berakhir. Setelah Abu Bakr mundur, datanglah melamar Fathimah seorang laki-laki lain yang gagah dan perkasa, seorang lelaki yang sejak masuk Islamnya membuat kaum muslimin berani tegak mengangkat muka, seorang laki-laki yang membuat syaithan berlari takut dan musuh-musuh Allah bertekuk lutut. ’Umar ibn Al Khaththab. Ya, Al Faruq, sang pemisah kebenaran dan kebathilan itu juga datang melamar Fathimah.
’Umar memang masuk Islam belakangan, sekitar 3 tahun setelah ’Ali dan Abu Bakr. Tapi siapa yang menyangsikan ketulusannya? Siapa yang menyangsikan kecerdasannya untuk mengejar pemahaman? Siapa yang menyangsikan semua pembelaan dahsyat yang hanya ’Umar dan Hamzah yang mampu memberikannya pada kaum muslimin? Dan lebih dari itu, ’Ali mendengar sendiri betapa seringnya Nabi berkata, ”Aku datang bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku keluar bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku masuk bersama Abu Bakr dan ’Umar..” Betapa tinggi kedudukannya di sisi Rasul, di sisi ayah Fathimah.
Lalu coba bandingkan bagaimana dia berhijrah dan bagaimana ’Umar melakukannya. ’Ali menyusul sang Nabi dengan sembunyi-sembunyi, dalam kejaran musuh yang frustasi karena tak menemukan beliau Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam. Maka ia hanya berani berjalan di kelam malam. Selebihnya, di siang hari dia mencari bayang-bayang gundukan bukit pasir. Menanti dan bersembunyi. ’Umar telah berangkat sebelumnya. Ia thawaf tujuh kali, lalu naik ke atas Ka’bah. ”Wahai Quraisy”, katanya. ”Hari ini putera Al Khaththab akan berhijrah. Barangsiapa yang ingin isterinya menjanda, anaknya menjadi yatim, atau ibunya berkabung tanpa henti, silakan hadang ’Umar di balik bukit ini!”
’Umar adalah lelaki pemberani. ’Ali, sekali lagi sadar. Dinilai dari semua segi dalam pandangan orang banyak, dia pemuda yang belum siap menikah. Apalagi menikahi Fathimah binti Rasulillah! Tidak. ’Umar jauh lebih layak. Dan ’Ali ridha. Mencintai tak berarti harus memiliki. Mencintai berarti pengorbanan untuk kebahagiaan orang yang kita cintai. Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan. Itulah keberanian. Atau mempersilakan. Yang ini pengorbanan.
Maka ’Ali bingung ketika kabar itu meruyak. Lamaran ’Umar juga ditolak. Menantu macam apa kiranya yang dikehendaki Nabi? Yang seperti ’Utsman sang miliarder kah yang telah menikahi Ruqayyah binti Rasulillah? Yang seperti Abul ’Ash ibn Rabi’ kah, saudagar Quraisy itu, suami Zainab binti Rasulillah? Ah, dua menantu Rasulullah itu sungguh membuatnya hilang kepercayaan diri. Di antara Muhajirin hanya ’Abdurrahman ibn ’Auf yang setara dengan mereka. Atau justru Nabi ingin mengambil menantu dari Anshar untuk mengeratkan kekerabatan dengan mereka? Sa’d ibn Mu’adz kah, sang pemimpin Aus yang tampan dan elegan itu? Atau Sa’d ibn ’Ubadah, pemimpin Khazraj yang lincah penuh semangat itu?
”Mengapa bukan engkau yang mencoba kawan?”, kalimat teman-teman Ansharnya itu membangunkan lamunan. ”Mengapa engkau tak mencoba melamar Fathimah? Aku punya firasat, engkaulah yang ditunggu-tunggu Baginda Nabi..”
”Aku?”, tanyanya tak yakin.
”Ya. Engkau wahai saudaraku!”
”Aku hanya pemuda miskin. Apa yang bisa kuandalkan?”
”Kami di belakangmu, kawan! Semoga Allah menolongmu!”
’Ali pun menghadap Sang Nabi. Maka dengan memberanikan diri, disampaikannya keinginannya untuk menikahi Fathimah. Ya, menikahi. Ia tahu, secara ekonomi tak ada yang menjanjikan pada dirinya. Hanya ada satu set baju besi di sana ditambah persediaan tepung kasar untuk makannya. Tapi meminta waktu dua atau tiga tahun untuk bersiap-siap? Itu memalukan! Meminta Fathimah menantikannya di batas waktu hingga ia siap? Itu sangat kekanakan. Usianya telah berkepala dua sekarang. ”Engkau pemuda sejati wahai ’Ali!”, begitu nuraninya mengingatkan. Pemuda yang siap bertanggungjawab atas rasa cintanya. Pemuda yang siap memikul resiko atas pilihan-pilihannya. Pemuda yang yakin bahwa Allah Maha Kaya.
Lamarannya berjawab, ”Ahlan wa sahlan!” Kata itu meluncur tenang bersama senyum Sang Nabi. Dan ia pun bingung. Apa maksudnya? Ucapan selamat datang itu sulit untuk bisa dikatakan sebagai isyarat penerimaan atau penolakan. Ah, mungkin Nabi pun bingung untuk menjawab. Mungkin tidak sekarang. Tapi ia siap ditolak. Itu resiko. Dan kejelasan jauh lebih ringan daripada menanggung beban tanya yang tak kunjung berjawab. Apalagi menyimpannya dalam hati sebagai bahtera tanpa pelabuhan. Ah, itu menyakitkan.
”Bagaimana jawab Nabi kawan? Bagaimana lamaranmu?”
”Entahlah..”
”Apa maksudmu?”
”Menurut kalian apakah ’Ahlan wa Sahlan’ berarti sebuah jawaban!”
”Dasar tolol! Tolol!”, kata mereka, ”Eh, maaf kawan.. Maksud kami satu saja sudah cukup dan kau mendapatkan dua! Ahlan saja sudah berarti ya. Sahlan juga. Dan kau mendapatkan Ahlan wa Sahlan kawan! Dua-duanya berarti ya!”
Dan ’Ali pun menikahi Fathimah. Dengan menggadaikan baju besinya. Dengan rumah yang semula ingin disumbangkan kawan-kawannya tapi Nabi berkeras agar ia membayar cicilannya. Itu hutang. Dengan keberanian untuk mengorbankan cintanya bagi Abu Bakr, ’Umar, dan Fathimah. Dengan keberanian untuk menikah. Sekarang. Bukan janji-janji dan nanti-nanti. ’Ali adalah gentleman sejati. Tidak heran kalau pemuda Arab memiliki yel, “Laa fatan illa ‘Aliyyan! Tak ada pemuda kecuali Ali!”
Inilah jalan cinta para pejuang. Jalan yang mempertemukan cinta dan semua perasaan dengan tanggungjawab. Dan di sini, cinta tak pernah meminta untuk menanti. Seperti ’Ali. Ia mempersilakan. Atau mengambil kesempatan. Yang pertama adalah pengorbanan. Yang kedua adalah keberanian. Dan bagi pencinta sejati, selalu ada yang manis dalam mencecap keduanya.
................
Ada rahasia terdalam di hati ‘Ali yang tak dikisahkannya pada siapapun. Fathimah. Karib kecilnya, puteri tersayang dari Sang Nabi yang adalah sepupunya itu, sungguh memesonanya. Kesantunannya, ibadahnya, kecekatan kerjanya, parasnya. Ia tak tahu apakah rasa itu bisa disebut cinta. Tapi, ia memang tersentak ketika suatu hari mendengar kabar yang mengejutkan. Fathimah dilamar seorang lelaki yang paling akrab dan paling dekat kedudukannya dengan Sang Nabi. Lelaki yang membela Islam dengan harta dan jiwa sejak awal-awal risalah. Lelaki yang iman dan akhlaqnya tak diragukan; Abu Bakr Ash Shiddiq, Radhiyallaahu ’Anhu.
”Allah mengujiku rupanya”, begitu batin ’Ali. Ia merasa diuji karena merasa apalah ia dibanding Abu Bakr. Kedudukan di sisi Nabi? Abu Bakr lebih utama, mungkin justru karena ia bukan kerabat dekat Nabi seperti ’Ali, namun keimanan dan pembelaannya pada Allah dan RasulNya tak tertandingi. Lihatlah bagaimana Abu Bakr menjadi kawan perjalanan Nabi dalam hijrah sementara ’Ali bertugas menggantikan beliau untuk menanti maut di ranjangnya..
Lihatlah juga bagaimana Abu Bakr berda’wah. Lihatlah berapa banyak tokoh bangsawan dan saudagar Makkah yang masuk Islam karena sentuhan Abu Bakr; ’Utsman, ’Abdurrahman ibn ’Auf, Thalhah, Zubair, Sa’d ibn Abi Waqqash, Mush’ab.. Ini yang tak mungkin dilakukan kanak-kanak kurang pergaulan seperti ’Ali. Lihatlah berapa banyak budak muslim yang dibebaskan dan para faqir yang dibela Abu Bakr; Bilal, Khabbab, keluarga Yassir, ’Abdullah ibn Mas’ud.. Dan siapa budak yang dibebaskan ’Ali? Dari sisi finansial, Abu Bakr sang saudagar, insyaallah lebih bisa membahagiakan Fathimah. ’Ali hanya pemuda miskin dari keluarga miskin.
”Inilah persaudaraan dan cinta”, gumam ’Ali. ”Aku mengutamakan Abu Bakr atas diriku, aku mengutamakan kebahagiaan Fathimah atas cintaku.” Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan. Ia adalah keberanian, atau pengorbanan.
Beberapa waktu berlalu, ternyata Allah menumbuhkan kembali tunas harap di hatinya yang sempat layu. Lamaran Abu Bakr ditolak. Dan ’Ali terus menjaga semangatnya untuk mempersiapkan diri.
Ah, ujian itu rupanya belum berakhir. Setelah Abu Bakr mundur, datanglah melamar Fathimah seorang laki-laki lain yang gagah dan perkasa, seorang lelaki yang sejak masuk Islamnya membuat kaum muslimin berani tegak mengangkat muka, seorang laki-laki yang membuat syaithan berlari takut dan musuh-musuh Allah bertekuk lutut. ’Umar ibn Al Khaththab. Ya, Al Faruq, sang pemisah kebenaran dan kebathilan itu juga datang melamar Fathimah.
’Umar memang masuk Islam belakangan, sekitar 3 tahun setelah ’Ali dan Abu Bakr. Tapi siapa yang menyangsikan ketulusannya? Siapa yang menyangsikan kecerdasannya untuk mengejar pemahaman? Siapa yang menyangsikan semua pembelaan dahsyat yang hanya ’Umar dan Hamzah yang mampu memberikannya pada kaum muslimin? Dan lebih dari itu, ’Ali mendengar sendiri betapa seringnya Nabi berkata, ”Aku datang bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku keluar bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku masuk bersama Abu Bakr dan ’Umar..” Betapa tinggi kedudukannya di sisi Rasul, di sisi ayah Fathimah.
Lalu coba bandingkan bagaimana dia berhijrah dan bagaimana ’Umar melakukannya. ’Ali menyusul sang Nabi dengan sembunyi-sembunyi, dalam kejaran musuh yang frustasi karena tak menemukan beliau Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam. Maka ia hanya berani berjalan di kelam malam. Selebihnya, di siang hari dia mencari bayang-bayang gundukan bukit pasir. Menanti dan bersembunyi. ’Umar telah berangkat sebelumnya. Ia thawaf tujuh kali, lalu naik ke atas Ka’bah. ”Wahai Quraisy”, katanya. ”Hari ini putera Al Khaththab akan berhijrah. Barangsiapa yang ingin isterinya menjanda, anaknya menjadi yatim, atau ibunya berkabung tanpa henti, silakan hadang ’Umar di balik bukit ini!”
’Umar adalah lelaki pemberani. ’Ali, sekali lagi sadar. Dinilai dari semua segi dalam pandangan orang banyak, dia pemuda yang belum siap menikah. Apalagi menikahi Fathimah binti Rasulillah! Tidak. ’Umar jauh lebih layak. Dan ’Ali ridha. Mencintai tak berarti harus memiliki. Mencintai berarti pengorbanan untuk kebahagiaan orang yang kita cintai. Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan. Itulah keberanian. Atau mempersilakan. Yang ini pengorbanan.
Maka ’Ali bingung ketika kabar itu meruyak. Lamaran ’Umar juga ditolak. Menantu macam apa kiranya yang dikehendaki Nabi? Yang seperti ’Utsman sang miliarder kah yang telah menikahi Ruqayyah binti Rasulillah? Yang seperti Abul ’Ash ibn Rabi’ kah, saudagar Quraisy itu, suami Zainab binti Rasulillah? Ah, dua menantu Rasulullah itu sungguh membuatnya hilang kepercayaan diri. Di antara Muhajirin hanya ’Abdurrahman ibn ’Auf yang setara dengan mereka. Atau justru Nabi ingin mengambil menantu dari Anshar untuk mengeratkan kekerabatan dengan mereka? Sa’d ibn Mu’adz kah, sang pemimpin Aus yang tampan dan elegan itu? Atau Sa’d ibn ’Ubadah, pemimpin Khazraj yang lincah penuh semangat itu?
”Mengapa bukan engkau yang mencoba kawan?”, kalimat teman-teman Ansharnya itu membangunkan lamunan. ”Mengapa engkau tak mencoba melamar Fathimah? Aku punya firasat, engkaulah yang ditunggu-tunggu Baginda Nabi..”
”Aku?”, tanyanya tak yakin.
”Ya. Engkau wahai saudaraku!”
”Aku hanya pemuda miskin. Apa yang bisa kuandalkan?”
”Kami di belakangmu, kawan! Semoga Allah menolongmu!”
’Ali pun menghadap Sang Nabi. Maka dengan memberanikan diri, disampaikannya keinginannya untuk menikahi Fathimah. Ya, menikahi. Ia tahu, secara ekonomi tak ada yang menjanjikan pada dirinya. Hanya ada satu set baju besi di sana ditambah persediaan tepung kasar untuk makannya. Tapi meminta waktu dua atau tiga tahun untuk bersiap-siap? Itu memalukan! Meminta Fathimah menantikannya di batas waktu hingga ia siap? Itu sangat kekanakan. Usianya telah berkepala dua sekarang. ”Engkau pemuda sejati wahai ’Ali!”, begitu nuraninya mengingatkan. Pemuda yang siap bertanggungjawab atas rasa cintanya. Pemuda yang siap memikul resiko atas pilihan-pilihannya. Pemuda yang yakin bahwa Allah Maha Kaya.
Lamarannya berjawab, ”Ahlan wa sahlan!” Kata itu meluncur tenang bersama senyum Sang Nabi. Dan ia pun bingung. Apa maksudnya? Ucapan selamat datang itu sulit untuk bisa dikatakan sebagai isyarat penerimaan atau penolakan. Ah, mungkin Nabi pun bingung untuk menjawab. Mungkin tidak sekarang. Tapi ia siap ditolak. Itu resiko. Dan kejelasan jauh lebih ringan daripada menanggung beban tanya yang tak kunjung berjawab. Apalagi menyimpannya dalam hati sebagai bahtera tanpa pelabuhan. Ah, itu menyakitkan.
”Bagaimana jawab Nabi kawan? Bagaimana lamaranmu?”
”Entahlah..”
”Apa maksudmu?”
”Menurut kalian apakah ’Ahlan wa Sahlan’ berarti sebuah jawaban!”
”Dasar tolol! Tolol!”, kata mereka, ”Eh, maaf kawan.. Maksud kami satu saja sudah cukup dan kau mendapatkan dua! Ahlan saja sudah berarti ya. Sahlan juga. Dan kau mendapatkan Ahlan wa Sahlan kawan! Dua-duanya berarti ya!”
Dan ’Ali pun menikahi Fathimah. Dengan menggadaikan baju besinya. Dengan rumah yang semula ingin disumbangkan kawan-kawannya tapi Nabi berkeras agar ia membayar cicilannya. Itu hutang. Dengan keberanian untuk mengorbankan cintanya bagi Abu Bakr, ’Umar, dan Fathimah. Dengan keberanian untuk menikah. Sekarang. Bukan janji-janji dan nanti-nanti. ’Ali adalah gentleman sejati. Tidak heran kalau pemuda Arab memiliki yel, “Laa fatan illa ‘Aliyyan! Tak ada pemuda kecuali Ali!”
Inilah jalan cinta para pejuang. Jalan yang mempertemukan cinta dan semua perasaan dengan tanggungjawab. Dan di sini, cinta tak pernah meminta untuk menanti. Seperti ’Ali. Ia mempersilakan. Atau mengambil kesempatan. Yang pertama adalah pengorbanan. Yang kedua adalah keberanian. Dan bagi pencinta sejati, selalu ada yang manis dalam mencecap keduanya.
Kamis, 18 November 2010
"Rasa"
Rasa...
mewakili semua yang ada dalam jiwa,
mengalir dalam sukma ketika ia meraja,
dan takkan pernah sanggup untuk di cegah...
Rasa...
sebagian emosi jiwa yang ada,
kadang untuk mengertinya tak kuasa,
hanya mendesak dalam asa,
dan menyesak dalam dada...
Rasa...
Rasa sakit, Rasa duka, Rasa kesal, Rasa jenuh, Rasa rindu,
Rasa kehilangan, Rasa cinta......
semua rasa takkan sanggup ku cegah!
karna Rasa adalah fitrah,
yang akupun tak pahami keberadaannya,
yang kadang hanya ilusi dan tak mampu merasuk ke dalam intuisi...
Rasa adalah Anugerah...
Tetapi Rasa nyata sebagai pengkhianat sejati...
yang kadang buatku tak mengenal diri ini... hmphhh....
mewakili semua yang ada dalam jiwa,
mengalir dalam sukma ketika ia meraja,
dan takkan pernah sanggup untuk di cegah...
Rasa...
sebagian emosi jiwa yang ada,
kadang untuk mengertinya tak kuasa,
hanya mendesak dalam asa,
dan menyesak dalam dada...
Rasa...
Rasa sakit, Rasa duka, Rasa kesal, Rasa jenuh, Rasa rindu,
Rasa kehilangan, Rasa cinta......
semua rasa takkan sanggup ku cegah!
karna Rasa adalah fitrah,
yang akupun tak pahami keberadaannya,
yang kadang hanya ilusi dan tak mampu merasuk ke dalam intuisi...
Rasa adalah Anugerah...
Tetapi Rasa nyata sebagai pengkhianat sejati...
yang kadang buatku tak mengenal diri ini... hmphhh....
Rabu, 10 November 2010
Senyuman Itu Kekuatan...
Senyuman itu......
Berikan banyak makna,
Menggumpal menjadi Tumpukkan kekuatan,
Torehkan banyak goresan pena
Pada lembaran sejarah kehidupan...
Semangatnya...
Menguatkan sisi yang lemah...
Kelebihannya...
melengkapi kekurangan yang ku miliki...
Dukanya...
Tak Pernah menjadi air mata...
Tapi, selalu senyuman yang merentankan ketegaran...
Meski semua tak sempurna...
Meski semua takkan kembali...
Tapi semua indah apa adanya...
Suka, Duka
Marah. benci,
Hidup, Mati,
menjadi tumpukan kekuatan
jika kita kan tetap "Ada"
meski takdir hadirkan banyak perbedaan...
Berikan banyak makna,
Menggumpal menjadi Tumpukkan kekuatan,
Torehkan banyak goresan pena
Pada lembaran sejarah kehidupan...
Semangatnya...
Menguatkan sisi yang lemah...
Kelebihannya...
melengkapi kekurangan yang ku miliki...
Dukanya...
Tak Pernah menjadi air mata...
Tapi, selalu senyuman yang merentankan ketegaran...
Meski semua tak sempurna...
Meski semua takkan kembali...
Tapi semua indah apa adanya...
Suka, Duka
Marah. benci,
Hidup, Mati,
menjadi tumpukan kekuatan
jika kita kan tetap "Ada"
meski takdir hadirkan banyak perbedaan...
Senin, 01 November 2010
sekelebat bayangan...
Angin siang ni,
menerjang tempatku berpijak,
tak ada kesejukan,
tak ada keteduhan,
hanya terus berhembus,
membawa hawa yang tak ku inginkan...
lagi-lagi...
sekelebat bayangan rasuki khayalku...
ntah..
seakan tersentak,
terus mndsak,
dan ku hnya mmpu terisak...
bayangan bisu itu terus merobek kesadaran...
tapi,tak sdikitpun sswtu bisa ku ungkapkan...
apa?
mengapa?
bagaimana?
sdktpun tak ku temukan jawaban........
Rabb...
ku hanya ingin berdiri karenaMu..
brikan hamba kekuatan..
utk mmpu mnahan smua nafsu dunia,
biarkan rasa ini tetap ada,tp jangan Kau lebihkan melebihi
cintaku padaMu..
bangkitkan jiwa suci yang Kau pinjamkan utkku Rabb...
menerjang tempatku berpijak,
tak ada kesejukan,
tak ada keteduhan,
hanya terus berhembus,
membawa hawa yang tak ku inginkan...
lagi-lagi...
sekelebat bayangan rasuki khayalku...
ntah..
seakan tersentak,
terus mndsak,
dan ku hnya mmpu terisak...
bayangan bisu itu terus merobek kesadaran...
tapi,tak sdikitpun sswtu bisa ku ungkapkan...
apa?
mengapa?
bagaimana?
sdktpun tak ku temukan jawaban........
Rabb...
ku hanya ingin berdiri karenaMu..
brikan hamba kekuatan..
utk mmpu mnahan smua nafsu dunia,
biarkan rasa ini tetap ada,tp jangan Kau lebihkan melebihi
cintaku padaMu..
bangkitkan jiwa suci yang Kau pinjamkan utkku Rabb...
Minggu, 31 Oktober 2010
Dear pecinta yang terkasih...
Maha Cinta..
Maha kasih..
Maha di atas segala Maha..
yang selalu mengasihi,
yang selalu hadir,
Rabb... sungguh nikmatnya hari-hari yang ku jalani,
Syukurku, ku ungkap dengan rasa yang hanya Kau yg mengetahui...
dengan segala hinanya diri ini,
Kau masih tetap meminjamkan semua Esa Mu untuk kekasih" kecilMu...
sungguh tak mampu kami hitung nikmatnya kehidupan yang Kau miliki...
namun terkadang, kami lupa mengingatMu,
kami lupa mengahdapMu,
kami lupa memohon ampunMu,
kami lupa berharap kepadaMu,
kami lupa mengadu kepadaMu,
kami Lupa untuk bersyukur kepadaMu...
berikan selalu kami kesadaran atas semua kebijakanMu Rabb..
atas semua keagunganMu,
berikan ku kemampuan utk menggenggam seberkas kekuatan,
untuk terus bertahan,
tak perlu Kau kurangi beban ini,
tapi, peluklah kami,genggam dan sentuh hati ini,
untuk selalu kembali bersujud kepadaMu...
agar langkah ini tak lepas Rahmat dan keridhaanMu Tuhanku...
Maha kasih..
Maha di atas segala Maha..
yang selalu mengasihi,
yang selalu hadir,
Rabb... sungguh nikmatnya hari-hari yang ku jalani,
Syukurku, ku ungkap dengan rasa yang hanya Kau yg mengetahui...
dengan segala hinanya diri ini,
Kau masih tetap meminjamkan semua Esa Mu untuk kekasih" kecilMu...
sungguh tak mampu kami hitung nikmatnya kehidupan yang Kau miliki...
namun terkadang, kami lupa mengingatMu,
kami lupa mengahdapMu,
kami lupa memohon ampunMu,
kami lupa berharap kepadaMu,
kami lupa mengadu kepadaMu,
kami Lupa untuk bersyukur kepadaMu...
berikan selalu kami kesadaran atas semua kebijakanMu Rabb..
atas semua keagunganMu,
berikan ku kemampuan utk menggenggam seberkas kekuatan,
untuk terus bertahan,
tak perlu Kau kurangi beban ini,
tapi, peluklah kami,genggam dan sentuh hati ini,
untuk selalu kembali bersujud kepadaMu...
agar langkah ini tak lepas Rahmat dan keridhaanMu Tuhanku...
Kamis, 25 Maret 2010
waktu..
Hari demi hari,bulan,dan tahun.. terlewatkan lagi...
sejarah yang terukir, hanya menjadi tumpukan waktu di masa depanku...
tanpa terasa ternyata ku semakin dekati kepulanganku...
dan semakin menjauh dari dunia fana ini...
waktu...
mengisahkan pertemuan...
memisahkan segala kebersamaan...
kenangan... hanya tersisip pada untaian memori...
kesempatan... seakan merobek segala harapan menembus batas waktu yang tersisa...
waktu...
menjadikan kehidupan menjadi hidup..
tetapi waktu terkadang bisa mematikan langkah ketika sejarah hanya pada bayangan...
huwh... yg bertahanpun hanya bs terdiam...
menyaksikan waktu terus berjalan kan mencengkeram garis penghabisan...
sejarah yang terukir, hanya menjadi tumpukan waktu di masa depanku...
tanpa terasa ternyata ku semakin dekati kepulanganku...
dan semakin menjauh dari dunia fana ini...
waktu...
mengisahkan pertemuan...
memisahkan segala kebersamaan...
kenangan... hanya tersisip pada untaian memori...
kesempatan... seakan merobek segala harapan menembus batas waktu yang tersisa...
waktu...
menjadikan kehidupan menjadi hidup..
tetapi waktu terkadang bisa mematikan langkah ketika sejarah hanya pada bayangan...
huwh... yg bertahanpun hanya bs terdiam...
menyaksikan waktu terus berjalan kan mencengkeram garis penghabisan...
Rabu, 17 Maret 2010
Allahu Akbar!
Ya Allah,
Engkaulah penerang segala kegelapan,
Engkaulah pelindung dari segala ancaman,
Hanya kepadaMu, hidup kami serahkan...
Tak semampunya manusia tuk berkata...
Tak semudahnya manusia tuk melangkah...
karena hanya Engkau yang berkuasa atas segalanya,
karena hanya Engkau yang mempunyai rencana untuk kami hambaMu..
Ya Rabb..
Kami manusia bersujud di bawah kebesaranMu,
AnugerahMu, menghidupkan kehidupan yang Kau miliki
Tunjukkan kami kebenaran sejati dari fana duniawi
Dan janan biarkan bongkah rasa di dunia butakan kami
Hidupkan cinta dalam hati kami hanya untukMu
sebagai cinta suci sejati dan agungkan kebesaranMu...
Engkaulah penerang segala kegelapan,
Engkaulah pelindung dari segala ancaman,
Hanya kepadaMu, hidup kami serahkan...
Tak semampunya manusia tuk berkata...
Tak semudahnya manusia tuk melangkah...
karena hanya Engkau yang berkuasa atas segalanya,
karena hanya Engkau yang mempunyai rencana untuk kami hambaMu..
Ya Rabb..
Kami manusia bersujud di bawah kebesaranMu,
AnugerahMu, menghidupkan kehidupan yang Kau miliki
Tunjukkan kami kebenaran sejati dari fana duniawi
Dan janan biarkan bongkah rasa di dunia butakan kami
Hidupkan cinta dalam hati kami hanya untukMu
sebagai cinta suci sejati dan agungkan kebesaranMu...
Langganan:
Komentar (Atom)