“Kenyataan yang dapat mempesonakanmu tiada lain adalah kenyataan itu sendiri.”
Kata-kata adalah bayangan kenyataan. Hanya dengan kata-kata, seolah kita mampu merasakan kenyataan itu, melihatnya, bahkan berinteraksi dengannya. Sebagai bayangan, kata-kata tak mampu seutuhnya melakukan apa yang nyata lakukan. Namun kata-kata ialah bayangan, yang mana ia juga merupakan yang setengah nyata (pada hakikatnya adalah kenyataan juga). Sehingga, jika ia mempesonakan atau setidaknya memberikan sesuatu yang berasa (tidak tawar), ia adalah kenyataan itu sendiri.
Semoga… jika kata-kataku membekas atau mempesonakanmu, itu adalah kenyataan dari diriku...
“Diamku bukanlah diam, gerakku bagaimana kau pandang. Bisuku jikalah kau mendengar, seruku hanyalah untukmu...”
“Maksudku bukanlah ukiran yang dipahat dilebar bebatuan menjulang. Maksudku bukanlah simphoni yang didengungkan oleh alam. Maksudku bukanlah angin yang kau hirup, mau tak mau pasti ‘kan terhisap. Maksudku ialah udang dibalik batu; nikmat Allah pada bocah ingusan; Omelan ibu yang mengasihi; juga penyair yang menyampaikan...”
“Bagaimana kau pahami hidup ini dari segala yang kau lihat hanya diluar sekitar, bagaimana kau pahami diriku ini dengan mengindra aku? Rasakanlah, inilah diriku.”
“Tak usah kau memandang, tak usah mendengar dan berucap, tak usah ada lagi yang menghampiri diriku. Kenalilah dirimu hingga engkau mengenaliNya, dan dariNya kau kan kenal semua yang ada, juga diriku yang mana itu adalah sebenar-benarnya aku; tanpa campur tangan perasaan dan indra yang menempel.”
“Aku inilah aku : jalanku, hidupku,”
“Bukan egois, jangan disebut individualis. Hanya semua cara melaluiNya, dan menujuNya harus sendiri saja. Maka jalanku, hidupku : untukku. Jalanmu, hidupmu : untukmu. Nanti kita kan bertemu,”
- SM -
Tidak ada komentar:
Posting Komentar